Menu

Otomatis
Breaking News

BumDes

BUMDes Maju Sejahtera Kelola Empat Unit Usaha, Rp260 Juta Masuk Program Ketahanan Pangan

badge-check

BUFFALO KAFEE Salah Satu Usaha BumDes Maju Sejahtera | foto by BumDes Perbesar

BUFFALO KAFEE Salah Satu Usaha BumDes Maju Sejahtera | foto by BumDes

NGAWI, transisi.net — BUMDes Maju Sejahtera, banyubiru, Kecamatan Widodaren, menjalankan sejumlah usaha desa. Unitnya meliputi pengelolaan parkir dan retribusi pasar, SPAM/Pamsimas, layanan wifi, hingga cafe. BUMDes juga mengelola program ketahanan pangan dengan penyertaan modal desa sebesar Rp260 juta.

Direktur BUMDes Maju Sejahtera, Supiyanto, saat ditemui Rabu (16/9), mengatakan seluruh usaha tersebut berjalan baik dan turut memberikan kontribusi kepada desa.

“Alhamdulillah bisa memberikan andil ke desa, ke PADes,” kata Supiyanto.

Pernyataan tersebut menggambarkan pandangan pengelola terhadap kinerja BUMDes. Namun, sejumlah angka dalam kegiatan usaha itu masih menarik untuk ditelusuri, terutama modal, penerimaan dan hasil yang masuk ke desa.

Pamsimas Layani 500 SR

SPAM/Pamsimas menjadi salah satu unit yang mengalami perkembangan. Saat ini unit tersebut melayani sekitar 500 sambungan rumah (SR).

Menurut Supiyanto, pada awal pengoperasian jumlah sambungan belum mencapai 100 SR. Ia mengaku tidak mengetahui angka awal secara pasti.

“Awal dulu jalan tidak sampai 100 SR, kurang lebih segitu. Kalau pastinya berapa saya tidak tahu secara detail,” ujarnya.

Pertumbuhan pelanggan menunjukkan perkembangan layanan. Namun, dari sisi usaha, angka pelanggan juga perlu dibandingkan dengan penerimaan dan biaya operasional.

Dengan sekitar 500 SR, berapa penerimaan yang masuk setiap bulan? Berapa biaya operasionalnya? Lalu berapa hasil yang tersisa untuk BUMDes?

Pertanyaan tersebut bisa dijawab melalui catatan keuangan dan laporan unit usaha.

Pasar, Wifi dan Cafe

Pada unit pasar, BUMDes tidak memegang aset fisik pasar. Pengelola mengurus parkir dan retribusi, sedangkan pengembangan pasar masih berjalan.

Untuk layanan wifi, BUMDes menjalin kerja sama dengan Jayanett melalui kontrak. BUMDes mencari pelanggan dan menerima pembayaran. Vendor menangani gangguan serta perbaikan jaringan.

Skema tersebut membuat pembagian tugas kedua pihak cukup jelas. Namun, nilai penerimaan BUMDes dari setiap pelanggan dan hasil yang masuk ke kas usaha tetap menarik untuk diketahui.

Cafe menjadi unit lain yang masih BUMDes kembangkan. Lokasi berukuran sekitar 10 x 8 meter itu juga menjadi tempat angkringan pada malam hari.

Bangunan cafe berdiri di atas tanah kas desa (TKD). Supiyanto menjelaskan pemerintah desa membangun bangunan tersebut sebelum menyerahkannya kepada BUMDes melalui berita acara.

Menurut Supiyanto, cafe membantu menutup kebutuhan operasional, termasuk biaya wifi dan listrik.

Rp260 Juta untuk Ketahanan Pangan

Program ketahanan pangan memiliki nilai penyertaan modal paling besar. Desa menempatkan modal Rp260 juta melalui BUMDes untuk kegiatan pada lahan lebih dari 2 hektare.

Pengelola memperoleh lahan tersebut melalui sistem lelang yang melibatkan masyarakat. Biaya sewanya mencapai Rp66 juta per tahun, menurut keterangan Supiyanto.

Angka Rp66 juta tentu mengambil porsi cukup besar dari modal Rp260 juta. Setelah membayar sewa, BUMDes masih harus membiayai kebutuhan produksi dan operasional.

Karena itu, hasil dari lahan tersebut menjadi angka penting. Berapa biaya yang keluar dan berapa hasil yang masuk akan menunjukkan bagaimana program tersebut mengembangkan modal desa.

Laporan BUMDes Menjadi Kunci

Supiyanto mengatakan BUMDes menyampaikan laporan perkembangan dua kali dalam setahun. Pengelola juga menyerahkan LPJ kepada pemerintah desa dan BPD pada akhir tahun.

Laporan tersebut dapat menjelaskan perjalanan usaha BUMDes secara lebih lengkap. Mulai dari perkembangan pelanggan Pamsimas, penerimaan unit pasar dan wifi, hasil cafe, sampai penggunaan modal Rp260 juta untuk ketahanan pangan.

Semakin besar modal dan semakin banyak unit usaha yang BUMDes kelola, semakin penting pula angka hasil usahanya.

Publik pada akhirnya tidak hanya ingin mengetahui apakah usaha berjalan. Pertanyaan yang lebih sederhana justru berapa hasilnya dan berapa bagian yang kembali kepada desa.

Editor: Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini
Baca Lainnya

BUMDes Gending Lestari Kembangkan Ternak Kambing

10 Sep 2026 - 14:20 WIB

BUMDes Gending Lestari Kembangkan Ternak Kambing

BUMDes Bangunrejo Kidul Kembangkan Budidaya Ikan

10 Sep 2026 - 01:48 WIB

BUMDes Bangunrejo Kidul Kembangkan Budidaya Ikan

KTP Fisik Mulai Diganti IKD, Ini Cara Mudah Aktivasi Identitas Digital Lewat HP‎

7 Mar 2026 - 12:42 WIB

KTP Fisik Mulai Diganti IKD, Ini Cara Mudah Aktivasi Identitas Digital Lewat HP‎

Transparansi BUMDes Diperkuat, DAPM Paron Gelar MAD Laporan Tahunan dan Perencanaan 2026

29 Jan 2026 - 06:00 WIB

Transparansi BUMDes Diperkuat, DAPM Paron Gelar MAD Laporan Tahunan dan Perencanaan 2026

Didorong Transformasi, BUMDesMa Mulai Jadi Sorotan di Desa

23 Okt 2025 - 01:17 WIB

Didorong Transformasi, BUMDesMa Mulai Jadi Sorotan di Desa
Trending di Ekonomi